Takjil Bubur Sayur Lodeh Warisan Panembahan Bodho di Bantul

af4f55b8-d9eb-41e5-8f33-7e3cbeb48ab1_169

Bantul | IP.COM – Takjilan di Masjid Sabiilurrosya’ad, Dusun Kauman, Desa Wijirejo, Kecamatan Pandak, Bantul disajikan berbeda. Hidangan yang disajikan kepada jamaah masjid berupa nasi bubur, sayur lodeh. Tradisi ini berlangsung ratusan tahun, semenjak masjid tersebut berdiri.

Pembawa tradisi ini adalah Panembahan Bodho salah satu penyebar Islam di wilayah tersebut. Panembahan Bodho dan keluarga di makamkan di Makam Sewu, Wijirejo.

Dalam cerita masyarakat sekitar, Panembahan Bodho bernama asli Adipati Trenggono. Dia disebut sebagai murid terakhir Sunan Kalijaga ini, dikisahkan menolak meneruskan jabatan Adipati Terong di Sidoarjo. Dia memilih mensyiarkan Islam di Desa Wijirejo.

Sekretaris Takmir Sabiilurrosya’ad, Hariyadi, menjelaskan jika menurut kisah leluhur Panembahan Bodho mendirikan masjid ini sekitar tahun 1570, atau abad ke-16. Di Wijirejo ini Bodho lalu mensyiarkan Islam lewat akulturasi budaya. Salah satunya memakai sarana takjil bubur sayur lodeh.

Atas pilihan Panembahan Bodho lebih memilih menyebarkan Islam ketimbang menjadi adipati, lantas banyak kalangan menyebutnya bodoh. Berasal dari sinilah akhirnya dia lebih dikenal sebagai Panembahan Bodho. “Beliau itu putra Adipati Terong,” kata Hariyadi di masjid, Minggu (25/5/2017).

Akulturasi budaya yang dilakukan Penambahan Bodho tampak dari caranya menyajikan bubur. Bubar yang merupakan makanan khas Gujarat, India, diadopsi dengan menggunakan sayur lodeh khas lidah Jawa. “Kami menyesuaikan saja, karena yang membawa Islam kan dari Gujarat,” katanya.

Dipilihnya bubur sayur lodeh, karena makanan ini sangat familiar bagi masyarakat Jawa. Apalagi menggunakan yakni tempe dan tahu setiap penyajiannya. Namun pada waktu-waktu tertentu seperti pada hari Jumat, warga terkadang mengganti sayur lodeh dengan daging ayam.

Hariyadi memaparkan, setidaknya ada tiga makna yang terkandung dalam tradisi takjil bubur sayur lodeh. Pertama bibirrin yang berarti dengan kebagusan. “Bibirrin itu artinya ajaran Islam itu harus diajarkan dengan cara yang baik, bukan dengan kekerasan,” tuturnya.

Selanjutnya ada istilah beber. Maksudnya sebelum takjil dibagikan ke jamaah masjid, mereka dijelaskan terkait dasar-dasar ajaran Islam. “Nilai beber itu berarti sebelum takjilan akan di beberkan ajaran Islam, di sana disampaikan nilai-nilai dasar Islam,” katanya.

Terakhir takjil bubur sayur lodeh mengandung babar. Filososinya ajaran Islam harus menyatu dengan masyarakat, tanpa memandang status sosial dari mana dia berasal. “Babar itu simbol persatuan umat Islam, berlaku untuk seluruh kalangan muslim tanpa terkecuali,” tegasnya.

Selanjutnya Hariyadi mengungkapkan kalau bubur bertekstur halus. Hal ini juga mengandung makna, yakni syiar Islam harus disampaikan dengan cara halus, bukan dengan pedang atau kekerasan. “Islam harus disampaikan dengan lemah lembut,” katanya.

Kini tradisi takjilan bubur sayur di Masjid Sabiilurrosya’ad tetap dipertahankan masyarakat. Lantaran cara ini masih ampuh dipakai mensyiarkan ajaran Islam. “Makanya kami tetap mempertahankan tradisi peninggalan Panembahan Bodho,” pungkasnya.(*)

Share

Share This Post

Post Comment